Senin, 29 Maret 2010

Satria Terakhir (part 1)

Panah-panah itu menancap tubuh si pemuda. Darah segar mengalir bak mata air sungai. Di kiri, kanan, tergelatak tubuh-tubuh berwarna merah, bermandikan darah, dengan pembalut tubuh yang sama persis seperti yang di pakai sang pemuda. Bau amis darah mengenyahkan aroma segar bunga di atas perbukitan tersebut.

Si pemuda memandang nanar. Urat-urat di leher terlihat jelas, di iringi erangan geram. Badan kokoh, besar, tinggi, serta tanda khusus di lengan kanan, menandakan si pemuda mempunyai jabatan yang layak di perhitungkan. Dengan tubuh lunglai, ia berusaha berjalan dan menyusuri tiap tubuh yang terdiam, kaku.

"Bragantara" teriak si pemuda dengan sisa tenaga yang ia punya. Suaranya menggema di seluruh bukit. Ia teruk mencari, diantara tubuh-tubuh kaku dan dingin. Lelah mencari ia tersungkur. Tangis si pemuda terdengar jelas menyayat, mengalahkan perih luka di sekujur tubuhnya. Tak lama, tangis itu berhenti seiring sang pemuda terbawa ke dunia mimpi dan tak sadarkan diri.

Ia terbangun, ditanah yang lembab, dengan sedikit cahaya. Suara air bergema mendominasi seluruh wilayah yang asing bagi si pemuda. Suara langkah kaki menyadarkannya.
"Kau tidur lama sekali" sebuah suara mengendorkan urat-uratnya yang sedari tadi tegang, waspada.
"Bragantara, kau...."
"ya, aku berhasil kabur dan bersembunyi disini. Bagaimana keadaan mu kakakku?"

Bersambung....


Pria Pelari

Ia terus berlari, tak perduli beribu pasang mata memperhatikannya, ia terus berlari. Saat letih, ia rehat sejenak,kemudian berlari lagi. Kadang aku bertanya, apa tak ada hal lain yang dapat ia lakukan selain berlari?

Tak tahu dari mana ia berasal, namun sejak aku kecil, aku telah sering melihatnya. Dibarat, selatan, utara, ia selalu ada, masih dengan berlari.

Tanpa mengenakan baju yang melindungi kulit hitam mengkilat itu, ia terus berlari. Tanpa menggunakan sepatu yang melindungi kaki yang juga hitam itu, ia masih terus berlari.

Jika kau bandingkan dengan peraih piala emas di Olympiade, ku rasa ia lebih tangguh. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk berlari. Siang, malam, hingga pagi menjemput, ia terus berlari. Entah apa yang ingin ia kejar. Hidupnya seakan tertuju pada satu hal, berlari.

Dimana ia tidur? Kapan ia mandi? Apakah ia mempunyai keluarga? Pertanyaan itu acap kali muncul di benakku. Pernah suatu hari ku coba mengikutinya, tapi aku tak mampu kawan.

Lama aku tak melihatnya, seluruh ruas jalan yang kulalui. tak lagi pernah ku lihat ia. Kucoba bertanya pada pengguna jalan sekitar, tak satupun yang tahu. Iseng, aku bahkan pergi ke kantor polisi mencari informasi tentang pria pelari, dan yang kudapat tawa menggelegar si petugas. Kenapa aku ini? Apakah aku rindu padanya? Siapa yang gila, aku atau dia?

Minggu, 28 Maret 2010

Duniaku dulu, kini dan nanti

Sejenak aku terlena oleh polah tingkah mereka. Tertawa, berlari, tak perduli mahluk di sekitar. Yang ada hanya keceriaan yang mendatangkan rasa iri di diri. Sungguh, aku iri.

Jika ku kenang masa-masa kecil dulu, maka akan ku dapati sebuah masa yang tak begitu berbeda dengan mereka. Tawa yang sama, kegembiraan yang sama, bahkan kepolosan yang sama. Masa dimana aku tak harus memutar otak memikirkan berbagai kebutuhan hidup, masa dimana tak ada yang memarahi ku saat membuat kesalahan. Aku rindu masa itu.

Terbangun dari khayal, aku kembali ke dunia realita. Dunia dimana tak ada tangis kecilku, tawa riangku, ataupun tanya polosku. Kadang aku berandai, aku kembali ke masa itu. Bisakah?

Aku, kini terjebak di sebuah dunia yang ku sebut "kedewasaan". Sebuah dunia yang menjauhkanku dari segala keringanan yang acap kali ku terima di masa kecilku. Keringanan dari hukuman, keringanan dari perhitungan dosa, keringanan dari terkabulnya segala keinginan, semuanya kini hilang. Kedewasaan ini memaksaku untuk berpikir sebelum bertindak, mencerna sebelum berkata, karena tak ada lagi jaminan untukku untuk sebuah keringanan.

Mungkin kini masaku terjebak di dunia ini. Aku yakin, suatu saat mereka pun akan terjebak di sini. Dan, ini membuka mataku.

Kedewasaan bukanlah musuh, karena kau takkan mampu mengalahkannya. Yang dapat kau lakukan hanyalah menjalaninya, dan berusaha melewatinya. Aku sadar, suatu saat dunia kedewasaan ini akan hilang dan berganti dengan dunia yang lain. Aku tak ingin tak siap dengan dunia baruku nanti, aku ingin menyambutnya dengan tawa, seperti aku menikmati dunia kanak-kanakku.

lalu, bagaimana dengan dunia dewasa ini? Aku berjanji padamu, pada kalian, dan pada diriku sendiri, aku akan menaklukkannya dengan karya terbaikku, untuk menyambut dunia baruku nanti.


Jumat, 26 Maret 2010

Kejutan Ibu

Usia renta tak menyurutkan semangatnya untuk memberikan yang terbaik untuk kami. Diantara keterbatasan, ia tetap melakukan yang terbaik, hanya untuk kami. Ah... ibu, aku sayang engkau, sungguh.

Ibu ku tak lagi muda, 60 sudah usianya. sekilas kau akan melihatnya seperti wanita 40 atau 50 tahunan (awet muda aku bilang ibu). Namun tak demikian dengan kondisi fisik (tentunya selain wajah). Diabetes merenggut kelincahan ibu, dan aku benci.

Kaki ibu sudah tak indah lagi ku lihat. beberapa luka yang membekas kasar membuatnya sulit berjalan sempurna. Tak puas dengan kaki ibuku, penyakit itu menyerang mata ibu. Pandangannya kini tak lagi jelas, "Kabur" katanya.

Namun satu hal yang membuat ku kagum pada wanita tua itu, semangatnya tak ikut terenggut. Ia tetap melakukan pekerjaan seperti sedia kala.

Aku kejam, pasti demikian fikir kalian. Ibuku keras kepala kawan. Tak terhitung berapa kali kami memintanya istirahat, namun beliau tetap menolak. Semangat dan kebiasaan masa muda, memang berpengaruh dimasa tuamu, setidaknya itulah yang terjadi pada ibuku.

Pernah suatu hari, aku mendapati Ibu memasak masakan kesukaanku. Betapa senang aku. Dengan semangat, ku lahap masakan ibu. Asin kawan, sungguh asin. Masakkan itu harusnya manis. Saat ku tanya (tanpa menyinggung ibu) ia bilang "Ibu kira gula". dan aku hanya tersenyum. Ah, Ibu, aku semakin mencintai mu.

Di lain hari, saat aku hendak mengambil sayur di lemari, kudapati kuah sayur berwarna coklat (yang seharusnya bening). Di bawah sayur, ku lihat teh celup tergeletak indah. Lagi-lagi, aku tersenyum...



Rabu, 24 Maret 2010

Tempat itu, dunia

Kawan...
Masihkah kau ingat waktu pertama kali kau melihat dunia? Kau, aku dan kita semua menangis (mungkin kita lupa). Kita harus meninggalkan tempat teraman, ternyaman, dan terhangat yang pernah kita tinggali. Tempat dimana kita tak perlu lari dari hujan dan dingin. Tempat dimana segala kebutuhan kita terpenuhi. Kita bagaikan raja yang apapun tihta kita, pasti terkabulkan. Sebuah tempat mulia, dari seorang wanita mulia, rahim ibu.

Kawan...
Kita menangis saat dipaksa meninggalkan kemewahan itu. Kita menangis saat mata kita di paksa melihat cahaya yang teramat menyilaukan (cahaya di rahim ibu, sungguh telah di desain secara sempurna). Dan yang membuat tangisan kita lebih keras, saat kita dipaksa berada di tempat yang telah menunggu segala kekejaman, bak serigala menunggu mangsa. Tempat itu bernama dunia.

Kawan...
Yang ku tahu, itulah beberapa alasan yang membuat kita menangis saat terlahir ke dunia. Tangisan yang seolah memberi gambaran, seperti apa tempat yang bernama dunia.

Lalu kawan...
Apa kau pernah melihat mereka yang menemui ajalnya? Lihatlah keluarga mereka. Seluruh anggota keluarga menangis, bahkan ada yang tak puas hanya dengan menangis, menunjukkan ekspresi tak layak.

Ada apa ini? Tak relakah mereka kehilangan sanak saudara yang mereka cintai? Atau, adakah mereka sadar bahwa sang mayat belum mempersiapkan bekal untuk menghadap-Nya?

Saat kita lahir, mereka tersenyum, tertawa, dan bersorak gembira. Namun, saat tiba waktu meninggalkan dunia, mereka menangis seakan tak rela.

Begitulah kebanyakan dari kita.

Kawan...
Apakah kau pernah melihat mereka yang berpulang dalam keadaan tersenyum? Mereka dihantar sanak keluarga dengan senyum pula?
Aku pernah.

Siapa mereka?
Orang-orang yang semasa hidupnya tak terlena dengan tipu muslihat dunia. Orang-orang yang semasa hidupnya tak tertindas kejamnya dunia. Orang-orang yang semasa hidupnya mempersiapkan bekal untuk menghadap Tuhannya. Indah kawan, sungguh indah.

Apakah mereka terlahir dalam keadaan tersenyum? Tidak, mereka sama seperti kita terlahir dengan tangis.

Lalu, saat berpulang mana yang akan kita pilih? Menangis, dan di hantar dengan riuh isak tangis, atau tersenyum, dan di hantar dengan damainya senyum.

Ku rasa, kau, aku, dan kita semua sedikit banyak dapat melihat gambaran ending dari kisah kehidupan kita. Apakah kita terlena dengan jerat tipu daya dunia? Atau kita mampu menaklukkan dunia dengan karya dan bekal hingga tiba waktu berpulang?

Jawabannya ada di tangan kita...


Kamis, 18 Maret 2010

Gadis Gerbong

Ia berdiri tegang. Riuh penumpang yang turun semakin membuat telinganya bekerja ekstra, untuk menangkap satu suara yang menjadi harapannya untuk tetap bertahan.

Debu yang berputar menari-nari di bawah amarah mentari yang membakar kulit, tak jua membuatnya bergeming.

Satu wajah ayu itu telah kehilangan pesonanya. Sembab di bawah mata memperjelas betapa jarang mata itu terlelap damai. Kulit bersih yang selalu ia rawat, kini seperti pohon yang kering tak tersiram curahan air penyambung hidup. Hingga malam menjemput, ia tetap bertahan.

Kereta terakhir pun datang. Hingga penumpang satu-satunya yang tersisa turun, ia tak menemukan yang ia tunggu.
"mungkin kereta besok" gumamnya.
Dengan gontai ia meninggalkan rel kereta yang sedari tadi menjadi saksi keguguhan si wanita.

Rubi nama wanita itu. Sosok wanita periang, cerdas dan selalu menjadi panutan. Di keluarga, ia yang paling menonjol. Predikat "anak emas" sudah tentu ia sandang (walau ia tak mengharapkannya).

Semasa di bangku kuliah, Rubi aktif dalam kegiatan sosial. Korban tsunami di Aceh, gempa di Padang, adalah di antara yang tak luput dari keringantanganan seorang Rubi.

Cantik dan pintar, siapa yang tak ingin menjadikannya pacar. Namun, sang kembang kampus tetap pada pendiriannya, tak ingin memberi harap yang akhirnya menghempaskan para kumbang dan menorehkan kecewa. Semua ia anggap sama, anggapan yang membuat para pria itu harus menelan kepahitan, "Teman".

Ia memang memiliki segala. Menjadi sorot perhatian kemanapun ia melangkah. Namun, ia tetap seorang gadis yang menginginkan kehadiran pria tempat ia berbagi, menggantungkan hati.

Tegar adalah pria beruntung itu. Pria dengan perawakan tinggi, berdedikasi dan serius dalam menekuni sesuatu. Dan, itulah yang menjadi alasan Rubi menempatkan hati pada pria itu. Banyak mata memandang iri mereka, menempatkan mereka pasangan sempurna, Rubi yang cerdas,Tegar yang gigih.

Hari yang dinanti tiba. Lamaran telah di terima, kuliah telah selesai, hari pernikahan pun ditentukan.

Menjadi istri seorang Tegar hal yang paling membahagiakan bagi Rubi. Tegar memperlakukannya dengan lembut, tak pernah sekalipun membuat ia sedih. Ah... sungguh, Rubi merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.

Surat itu datang. Surat perintah yang seakan malaikat pun tak punya kuasa mencegahnya. Surat yang membuat hati Rubi hancur bak gelas yang di hempas dan berhamburan, menyisakan serpihan yang menyakitkan.
"apakah abang harus pergi sekarang?" tanya Rubi.
"sayang, kau tahu ini kewajibanku. Abang akan segera pulang".
Tegar memeluk istrinya, mencium dan membelai rambut indah Rubi.

Belum genap satu minggu usia pernikahan mereka, namun Rubi harus merelakan suaminya. Ia sadar, ini merupakan resiko menikahi seorang abdi negara. Tegar adalah tentara yang mempunyai prestasi cukup gemilang di kesatuannya. Dan, Rubi hanya bisa pasrah.

Tiga bulan ia menunggu. Tiap malam ia panjatkan doa hanya untuk keselamatan suami tercinta. Lama ia simpan kabar itu, kabar telah menunggu buah cintakasih mereka di dalam rahim Rubi, buah cinta yang membuatnya bertahan untuk tetap menunggu.

Dunia seakan terhempas. Bangunan-bangunan harapan yang telah ia susun hancur tanpa penghalang. Mimpi-mimpi indah yang ia rajut terkoyak. Ia hanya bisa menangis, tak kuat, ia jatuh dan terpuruk ke dunia mimpi, meninggalkan kenyataan kelam tentang hancurnya istana kebahagiaan.

Rubi tersadar, masih dengan surat di tangan kiri. Surat dengan segel emas yang terlekat indah. Amplop biru dengan simbol kesatuan yang gagah, surat yang membuat dunianya luluh lantak. Surat itu diakhiri dengan kalimat menyayat, "kami turut berduka cita".

Sejak saat itu, terlihat wanita muda berusia 25 tahunan berdiri di depan gerbong pemberhentian kereta api. Wajah lusuhnya setia menemani gerbong itu hingga fajar kembali berselimut di balik kelamnya malam.


Rabu, 17 Maret 2010

The Killer

Lena sibuk membongkar tas sekolahnya. Wajahnya pucat.
"Mampus, perasaan udah gue masukin deh". Gumam Lena.
Bel sekolah tinggal menunggu hitungan menit meneriakkan instruksi yang harus di patuhi seluruh penghuni sekolah.

Dan, jam pelajaran matematika pun di mulai. Jadilah, Lena berdiri di depan kelas dihadapan puluhan pasang mata (tentunya dengan perasaan malu tak kentara) lantaran lupa membawa PR.

Bukan berdiri di depan kelas yang membuat Lena malu, namun Cendera mata berupa coretan manis dengan spidol tebal di kedua pipinya, oleh-oleh dari Bu Zara (guru matematika yang terkenal killer seantero sekolah). Membayangkan coretan tersebut harus bertahan hingga jam sekolah usai, semakin membuat Lena putus asa.

"rese' tu guru, ni kan baru ke tiga kalinya gue ga' bikin PR" Geram Lena.
"tiga kali? masih mending. Gue yang baru sekali juga bernasib sama len" sahut Rika teman sekelas Lena.
"mesti di kasi pelajaran tu orang biar ga..." titttttttttttt. Jemputan Lena pun datang.

Lena sibuk memutar otak, mencari strategi yang pas untuk membalas Bu Zara. Reputasi Lena sebagai gadis badung, memang sudah melegenda. Dari kelas 1 ia berhasil menampakkan taringnya. wajar, jika sampai sekarang tak ada cowok yang mau mendekatinya.

Esok pagi, seperti tak ingin membuang waktu, Lena melaksanakan pembalasan dendamnya. Permen karet yang telah di emut sedari tadi menjadi senjata utama. Posisi pun di tentukan. Kursi guru media yang tepat.

Sekilas tak tampak gundukan kecil permen karet di kursi depan. Warna putih kursi menjadi samaran sempurna bagi permen karet "balas dendam" Lena. Semua siap. Murid lainnya sudah pasti tak berani komentar atau, tinju pamungkas Lena melayang di muka.

Bel berbunyi. Waktu yang di tunggu pun tiba.

Alangkah terkejutnya Lena, saat yang masuk dari pintu kelas bukan sosok seorang perempuan berkerudung, lengkap dengan kacamata minus dan penggaris besinya, melainkan seorang pria dengan kumis, berkepala botak.

"Selamat pagi anak-anak". sapa Kepala Sekolah.
"selamat pagi pak" sahut seisi kelas serempak.
"hari ini Ibu Zara berhalangan masuk, beliau sakit. Kebetulan sudah lama bapak tidak masuk ke kelas kalian, jadi sekalian saja bapak mampir. Ada beberapa informasi seputar ujian nasional yang akan bapak sampaikan".

Seisi kelas bersorak gembira, namun tidak demikian dengan Lena. Ia kesal, rencana yang telah ia fikirkan semalaman hingga menyita jam tidur, kini harus sia-sia. Serentetan sumpah serapah ia keluarkan. Siswa lain hanya bisa tersenyum melihat si cewek badung menahan kesal.

Waktu terus berjalan, namun tak sekalipun Lena berhasil melaksanakan pembalasan dendamnya. Sepertinya Bu Zara guru yang beruntung. Pernah suatu kali Lena melaksanakan taktiknya yang gagal kemaren. Kenyataannya, tak sedikitpun Bu Zara duduk di bangku. Ia memberikan ulangan mendadak, dan berkeliling mengawas pekerjaan seisi kelas. Dan Lena, hanya bisa menggeram.

Banyak lagi kejadian lainnya yang menyelamatkan Bu Zara dari pembalasan dendam Lena.

"les tambahan? apa-apan tu guru" teriak Lena saat Rika memberitahu les tambahan matematika di Rumah Bu Zara.
"iya Len, ujiankan udah dekat, jadi kita dikasi ujian tambahan" sahut Rika.
"tapi kenapa harus di rumah Bu Zara?"
"ya, karena Bu Zara maunya begitu".

Lena semakin membenci Bu Zahra. Bukan hanya karena ia tak pandai matematika, tapi karena ia belum berhasil membalas dendam.

Dan les pun dimulai. Awalnya Lena membayangkan wanita setengah baya itu tinggal di rumah yang mewah. Wanita itu memiliki kulit putih yang bersih, wajah ayu, dan cerdas dalam memberikan strategi menjawab pelajaran secara cepat kepada para siswa (dan Lena benci mengakuinya). Pastilah ia tinggal di rumah yang mewah dan serba kecukupan.

Lena sedikit terkejut melihat kenyataan yang tak sesuai dengan khayalannya. Tempat tinggal wanita tersebut tak lebih besar dari rumahnya. Papan kayu sederhana (namun bersih) menjadi alas rumah tersebut, tanpa karpet atau permadani. Empat buah kursi dan sebuah meja tamu terletak di sebuah ruangan yang mereka tempati saat itu (dan Lena langsung bisa menebak ruangan itu adalah ruang tamu). Ruangan di belakangnya sama besar dengan ruang tamu, hanya di pisahkan oleh sekat. Hanya ada dua buah kamar di rumah tersebut. Inilah rumah Bu Zara, yang menurut Lena sederhana, bahkan teramat sederhana.

"maaf ya anak-anak menunggu lama" Bu Zara tiba-tiba keluar dari ruang belakang.
"ah ga apa-apa ko Bu" sahut para siswa.

Pelajaran matematika pun dimulai. "Tunggu, ada yang lain disisni" fikir Lena. Bu Zara kelihatan berbeda. Bukan tampilan fisik, tapi caranya mengajar. Ia tak seperti guru killer yang sering ia tunjukkan di kelas. Senyum selalu ia perlihatkan sembari menjelaskan pelajaran. Dan, satu hal yang juga lena sadari, Bu Zara kelihatan lebih sabar dalam memberikan penjelasan, tak ada pukulan penggaris besi saat kami tak bisa menjawab pertanyaannya, ia sungguh berbeda.

Tak tahu mengapa, Lena merasa pelajaran matematika hari ini begitu mudah. Semua dapat ia serap dengan sempurna (padahal ini hanya pengulangan dari apa yang pernah Bu Zara sampaikan di kelas). Apakah karena cara penyampaian Bu Zara yang berbeda? yang pasti Lena mulai menyukai matematika, dan yang lebih aneh lagi, ia mulai menyukai Bu Zara.

Ternyata wanita itu tak segalak kelihatannya. Apa yang terlihat hari ini sungguh berbanding terbalik dengan keadaan biasanya. Atau, memang ini sikap asli Bu Zara? Lena mulai bertanya-tanya dalam dirinya. Ternyata keanehan itu juga dirasakan oleh teman sekelas Lena.

"maaf kalau selama ini Ibu terkesan jahat sama kalian" Jelas Bu Zara setelah les tambahan selesai.
"Ibu cuma ga' ingin kalian main-main saat belajar, ya maklum la, matematika memang bukan pelajaran yang mudah di tangkap jika dibandingkan pelajaran lain. Jadi, serius modal utama" Lanjut Bu Zara.
"oh ga apa-apa ko bu, kami ngerti" sahut Lena.

Tak tahu kekuatan dari mana, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Lena. Siswa lainnya sampai terbengonmg-bengong mendengar jawaban Lena. Dan Lena merasa pipinya memanas (bukan karena marah, tapi malu).

Les hari itu pun selesai
"Lena, tunggu sebentar" panggil Bu Zara saat lena hendak meninggalkan rumah.
"kamu ada waktu? ibu ingin bicara sebentar sama kamu"
"oh ada bu" sahut Lena.
"ibu minta maaf jika selama ini kamu yang paling sering merasakan kekejaman ibu. Semua itu Ibu lakukan agar kamu lebih serius belajar". Lena hanya bisa tersenyum
"kamu sebenarnya pintar Lena, cuma sedikit malas. Ibu yakin kalau kamu rajin, kamu dapat melebihi teman-teman kamu yang lain......"

Entah apa lagi yang di sampaikan Bu Zara, Lena terhanyaut dalam lamunannya. Hingga sampai di rumah, ia masih bingung, bukan karena ia tak mendengarkan seluruh permintan maaf wanita itu, tapi bingung karena ia kagum pada wanita itu. Lalu kemana dendam itu pergi? Lena tambah bingung.



Pages

Welcome to my world

Satu dunia yang akan membuat mu mengenalku lebih jauh.
Siapa aku? bagaimana aku? Selamat datang.......