Buku merah itu….
Tergeletak di antara tumpukan buku-buku lainnya, tanpa pernah ia sentuh. Warna merahnya pun kini tak lagi jelas, pudar dan usang.
Buku merah itu….
Dulu sering ia buka dan ia torehkan pena diatasnya. Segala cerita hidup yang tak sanggup ia bagi dengan yang lainnya, ia tuangkan disana. Segala rintihan hati dan harapan akan sesuatu yang takmungkinpun ia simpan rapat disana.
Buku merah itu…
Menyimpan rahasia hati dari seorang gadis remaja yang mempunyai cita-cita yang bahkan melebii kemampuannya. Setiap hasrat ia torehkan disana, setiap duka ia adukan pula disana. Buku tua itu seakan menjadi teman setia bahkan mengalahkan teman yang sesungguhnya ( apakah ia punya teman? ).
Buku merah itu…
Menjadi penerang saat gelap menyelubungi. Ia bagai mendapat cahaya, hanya dengan membukanya dan mulai mengundang cahaya dengan tarian penanya.
Buku merah itu kini ia buka…
Dengan hati-hati ia mulai membersihkan debu yang hampir memenuhi seluruh cover buku merah itu. Satu tiupan dari bibir mungil nan indah, menerbangkan debu yang menari diantara sinar mentari dari celah jendela, meneriakkan pekikan kemerdekaan dari buku merah itu.
Lembar demi lembar buku merah itu ia buka…
Tiap kalimat ia baca dengan seksama. Kadang ia tertawa, namun terkadang ia menangis. Buku merah itu begitu asik menari di tangannya. Mereka seakan sepasang kekasih yang sedang melabuhkan rindu dengan irama cinta. Si gadis seakan teramat sayang kepadanya, terlihat dari caranya membalik tiap halaman dengan hati-hati dan penuh cinta.
Buku merah itu berhenti ia balik di satu halaman…
Air mata si gadis mengambang, tak tahan, jatuh diantara halaman yang terbuka. Seperti mendapat instruksi,air mata itu bergulir, meruntuhkan goresan pena yang tertata rapi dalam tulisan sang gadis, menyisakan noda hitam.
Tulisan itu tak semuanya luntur…
Masih terbaca satu kalimat penyebab terhentinya sang gadis di satu halaman itu. Satu kalimat yang menjadi harapan tertinggi sang gadis. Satu kalimat yang tergores tegas, memandakan betapa besar harapan si gadis…
"Tuhan, jika boleh aku meminta, aku hanya ingin dapat menyebutkan nama-Mu, dengan bibirku. Aku hanya ingin menyapa Ayah dan Ibu, dengan bibirku. Aku.. hanya ingin bisa bicara"
Fari safa
Kamis, 17 Juni 2010
Selasa, 08 Juni 2010
Suara di Pagi hari
Aku terbangun, “Ah sudah jam 5”. Aku bergegas menjalankan rutinitas ku, mandi dan menyiapkan sarapan untuk suamiku. Tapi, ada yang berbeda di pagi itu, sayup-sayup kudengar suara nan indah dari rumah sebelah. Suara itu begitu merdu, syahdu dan menenangkan. Tapi sayang, aku tak punya waktu lama untuk menikmatinya, suamiku bisa marah jika aku telat menyiapkan sarapan untuknya.
Aku dan suamiku baru pindah dari rumah kontrakan kami yang lama. Baru satu hari kami disini, dengan lingkungan yang belum kami kenal tentunya, para tetangga yang ada di sekitarku, menjalankan kewajibanku sebagai mahluk bersosialisasi. Rumah sebelah itu, dimana suara indah nan merdu yang kudapati pagi ini, adalah target utamaku.
Semua siap. Suami telah berangkat kerja, dan aku dengan hasil latihanku di depan kaca, siap menyata mereka, terutama penghuni rumah sebelah. Sejuta kata manis nan indah ku siapkan sebagai bahan obrolan nanti. Senyum terlebar yang kupunyapun siap di bibir. Baju baru (padahal aku hanya memakainya saat acara keluarga) terpaksa ku kenakan, demi memikat hati mereka, tetangga-tetangga baruku.
”Assalamu’alaikum.....” Ku ketuk pintu rumah sebelah itu. Tak ada jawaban, sepi.
”Assalamu’alaikum, selamat pagi ...” Ku ketuk kembali pintu itu. Masih sepi.
“Orangnya ga’ ada bu, tadi pagi pergi ada acara di rumah keluarganya” Tetangga yang lain menyahut.
Setengah mendesah aku berlalu, menghampiri tetangga yang memberitahuku tadi. Ku keluarkan hasil latihanku, senyum terindah, kata-kata penuh sanjungan, dan jadilah aku berbaur bersama mereka, tetangga baruku.
Waktunya pulang, sudah siang. Suamiku takkan senang melihat tak ada apapun untuk makan siangnya, dan aku bergegas.
Aku kembali terbangun. Pagi itu dingin, malas rasanya melepaskan selimut pembalut tubuh. Tapi... sayup-sayup ku dengar kembali suara itu. Aku bergegas meninggalkan kamar, menuju ruang tamu untuk menangkap lebih jelas suara itu. Aku tertegun, suara itu begitu menghipnotisku.
Tapi tunggu dulu, sepertinya aku kenal syair itu. Ini bukan syair, aku tahu betul. Ini adalah sesuatu yang lama tak kulantunkan, aku bahkan meragukan kalau aku masih ingat bagaimana melantunkannya. Ini adalah sesuatu yang telah lama tak kudengar. Ini adalah sesuatu yang terdapat di dalam lemari, tergeletak berdebu tanpa pernah lagi kusentuh. Ini adalah lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Suara itu rutin ku dengar setiap pagi. Saat siang datang, aku berharap agar pagi kembali menjelang, karena aku ingin mendengar suara itu, suara tilawah tetangga sebelahku.
Entahlah, suara itu bagaikan terapi bagiku. Disaat aku gelisah, seakan hilang saat aku mendengar suara itu. Disaat emosi menyesak dada, itupun hilang hanya dengan mendengar suara itu. Suara itu menjadi sesuatu yang ku rindu setiap pagi.
Rasa cintaku semakin memuncak pada suara itu. Aku bagai pungguk yang merindukan bulan, seperti anak kecil yang menunggu sang ibu datang dan memeluk tubuh mungilnya, aku bagaikan seorang kekasih yang menunggu pujaan hatinya menghampiri.
Pagi itu, entah mengapa mataku tertuju pada lemari di ruang tamu. Lemari itu biasa, dengan kualitas dan harga yang biasa pula. Namun, bukan lemari itu yang menjadi perhatianku. Tapi sesuatu yang tergeletak di dalamnya, hampir tak pernah kusentuh.
Benda itu berwarna biru, dengan ukiran kaligrafi indah di tiap sudutnya. Namun sayang, warna biru itu telah pudar tertutup oleh debu dan beberapa sarang laba-laba di sisi-sisinya. Saat aku mengangkatnya, dapat ku lihat bekas jari-jariku yang menempel, menyingkirkan debu yang membungkus benda biru itu.
Benda itu Al-Qur’an. Kitab suci yang diagung-agungkan dan menjadi penenang jiwa bagi umat islam sedunia. Namun ditanganku, benda itu hanya sebuah benda yang tak terawat. Menjadi pajangan yang tak tersentuh, hanya sebagai simbol bahwa aku seorang muslim.
Dengan tangan bergetar, ku buka lembar demi lembar kitab suci itu. Ku tiup beberapa debu, berterbangan seolah mentertawakanku. Aku berhenti di satu halaman, dan dengan bibir bergetar, ku coba membaca tiap huruf arab yang tercetak gagah disana.
Tak satupun kata yang keluar dari bibirku. Tak satupun huruf terucap dari mulutku. Lidah ini kelu. Bukan karena gangguan pada indera pengucapku, tapi tak satupun dari tiap huruf itu yang ku tahu cara mengucapkannya, dan aku menangis...
Wahai sang pemilik suara pagi itu, tolong ajari aku agar dapat melantunkan ayat-ayat suci ini, agar aku merasa tenang, damai, dan dekat dengan Tuhan ku...
Aku dan suamiku baru pindah dari rumah kontrakan kami yang lama. Baru satu hari kami disini, dengan lingkungan yang belum kami kenal tentunya, para tetangga yang ada di sekitarku, menjalankan kewajibanku sebagai mahluk bersosialisasi. Rumah sebelah itu, dimana suara indah nan merdu yang kudapati pagi ini, adalah target utamaku.
Semua siap. Suami telah berangkat kerja, dan aku dengan hasil latihanku di depan kaca, siap menyata mereka, terutama penghuni rumah sebelah. Sejuta kata manis nan indah ku siapkan sebagai bahan obrolan nanti. Senyum terlebar yang kupunyapun siap di bibir. Baju baru (padahal aku hanya memakainya saat acara keluarga) terpaksa ku kenakan, demi memikat hati mereka, tetangga-tetangga baruku.
”Assalamu’alaikum.....” Ku ketuk pintu rumah sebelah itu. Tak ada jawaban, sepi.
”Assalamu’alaikum, selamat pagi ...” Ku ketuk kembali pintu itu. Masih sepi.
“Orangnya ga’ ada bu, tadi pagi pergi ada acara di rumah keluarganya” Tetangga yang lain menyahut.
Setengah mendesah aku berlalu, menghampiri tetangga yang memberitahuku tadi. Ku keluarkan hasil latihanku, senyum terindah, kata-kata penuh sanjungan, dan jadilah aku berbaur bersama mereka, tetangga baruku.
Waktunya pulang, sudah siang. Suamiku takkan senang melihat tak ada apapun untuk makan siangnya, dan aku bergegas.
Aku kembali terbangun. Pagi itu dingin, malas rasanya melepaskan selimut pembalut tubuh. Tapi... sayup-sayup ku dengar kembali suara itu. Aku bergegas meninggalkan kamar, menuju ruang tamu untuk menangkap lebih jelas suara itu. Aku tertegun, suara itu begitu menghipnotisku.
Tapi tunggu dulu, sepertinya aku kenal syair itu. Ini bukan syair, aku tahu betul. Ini adalah sesuatu yang lama tak kulantunkan, aku bahkan meragukan kalau aku masih ingat bagaimana melantunkannya. Ini adalah sesuatu yang telah lama tak kudengar. Ini adalah sesuatu yang terdapat di dalam lemari, tergeletak berdebu tanpa pernah lagi kusentuh. Ini adalah lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Suara itu rutin ku dengar setiap pagi. Saat siang datang, aku berharap agar pagi kembali menjelang, karena aku ingin mendengar suara itu, suara tilawah tetangga sebelahku.
Entahlah, suara itu bagaikan terapi bagiku. Disaat aku gelisah, seakan hilang saat aku mendengar suara itu. Disaat emosi menyesak dada, itupun hilang hanya dengan mendengar suara itu. Suara itu menjadi sesuatu yang ku rindu setiap pagi.
Rasa cintaku semakin memuncak pada suara itu. Aku bagai pungguk yang merindukan bulan, seperti anak kecil yang menunggu sang ibu datang dan memeluk tubuh mungilnya, aku bagaikan seorang kekasih yang menunggu pujaan hatinya menghampiri.
Pagi itu, entah mengapa mataku tertuju pada lemari di ruang tamu. Lemari itu biasa, dengan kualitas dan harga yang biasa pula. Namun, bukan lemari itu yang menjadi perhatianku. Tapi sesuatu yang tergeletak di dalamnya, hampir tak pernah kusentuh.
Benda itu berwarna biru, dengan ukiran kaligrafi indah di tiap sudutnya. Namun sayang, warna biru itu telah pudar tertutup oleh debu dan beberapa sarang laba-laba di sisi-sisinya. Saat aku mengangkatnya, dapat ku lihat bekas jari-jariku yang menempel, menyingkirkan debu yang membungkus benda biru itu.
Benda itu Al-Qur’an. Kitab suci yang diagung-agungkan dan menjadi penenang jiwa bagi umat islam sedunia. Namun ditanganku, benda itu hanya sebuah benda yang tak terawat. Menjadi pajangan yang tak tersentuh, hanya sebagai simbol bahwa aku seorang muslim.
Dengan tangan bergetar, ku buka lembar demi lembar kitab suci itu. Ku tiup beberapa debu, berterbangan seolah mentertawakanku. Aku berhenti di satu halaman, dan dengan bibir bergetar, ku coba membaca tiap huruf arab yang tercetak gagah disana.
Tak satupun kata yang keluar dari bibirku. Tak satupun huruf terucap dari mulutku. Lidah ini kelu. Bukan karena gangguan pada indera pengucapku, tapi tak satupun dari tiap huruf itu yang ku tahu cara mengucapkannya, dan aku menangis...
Wahai sang pemilik suara pagi itu, tolong ajari aku agar dapat melantunkan ayat-ayat suci ini, agar aku merasa tenang, damai, dan dekat dengan Tuhan ku...
Selasa, 01 Juni 2010
Journey To Sungai Bemban (Part 3)
Pontianak, 22 Mei 2010 (masih di hari yang sama)
Kawan, ku harap kau tidak bosan mendengar ceritaku. Hanya ingin menceritakan pengalamanku kawan, tak lebih.
Perjalanan kamipun berlanjut, setelah lepas dari razia ilegal yang menguras (keringat dan uang) kami. Untunglah, semangat kami tak ikut terkuras. Bayangan suasana pedesaan yang asri, serta sejuknya air gunung semakin memompa semangat kami untuk terus melanjutkan perjalanan. memasuki daerah Punggur, kami disambut jejeran pohon langsat yang sayangnya saat itu masih belum berbuah, namun menjadi pandangan menyejukkan bagi mata kami yang cukup lelah di tampar angin dan debu, memaksa air mata sesekali bekerja membersihkan sang indera.
Catat... Aku terus berkhayal kawan, akan keindahan desa itu, agar aku tetap bersemangat.
Kali ini kami memasuki perkebunan kelapa sawit. Berbanding terbalik dengan pohon langsat yang menjulang tinggi, menutup tubuh kami dari amarah mentari. Pohon sawit itu terbilang kerdil, seakan menertawakan 6 anak manusia yang tak lepas dari sorotan penerang satu-satunya siang itu, titipan Tuhan yang akan kami syukuri (terutama saat mengeringkan pakaian ^_^).
Daerah perkebunan itu memiliki satu-satunya jalur transportasi, berupa tanah kuning yang berasal dari pegunungan.Kami bersyukur siang itu terik kawan, karena kau dapat membayangkan bagaimana kondisi jalan jika hujan menyiram tanah merah itu (silahkan kau bayangkan). Di tepi jalan, (berdekatan dengan jejeran pohon sawit), masih dapat kau lihat jejak gilasan traktor, yang memenuhi hampir sepanjang jalan. 40 menit kurang lebih waktu yang kau butuhkan melewati kebun sawit dan tanah kuningnya, tanpa perlindungan sedikitpun dengan sorotan bola raksasa di atas sana yang tetap setia mengawasi kami.
Catat... Aku cukup khawatir akan kondisi lingkungan di sekitar perkebunan itu.
Hembusan nafas lega saat kami mencapai tanah merah terakhir. Semakin terbayang keramahan penduduk desa, seakan tak sabar segera bertemu mereka, sembari merebahkan badan ini walau untuk beberapa menit. Namun, bayangan itu harus kami tahan karena perjalanan ini masih menyisakan sekitar 1 jam kedepan.
Catat... Satu jam waktu yang cukup lama untukku.
Kami terhenti di satu ruas jalan. Satu ruas jalan dengan tanah hitam di sepanjang mata memandang. Jalan itu dihiasi dengan rumput liar dan beberapa pohon. Disisi kiri dan kanan terdapat parit yang membatasi jalan tersebut. Parit ini cukup curam kawan, kau akan membutuhkan tenaga dan bantuan ekstra jika kau terperangkap didalamnya. Namun, bukan itu yang membuat kami tertegun, tapi kondisi jalan yang digenangi air dan becek membuat kami harus menelan ludah hanya dengan melihatnya. Balum lagi parit disisi kanan kiri seakan tersenyum menunggu kami menghampirinya dan melumat kami dengan lumpur dan bau, yang dari jauh sudah dapat kami cium aromanya. Dan, disinilah petualangan dan penderitaan kami dimulai.
catat... Aku ragu kami akan tiba tepat waktu.
Bersambung...
Kawan, ku harap kau tidak bosan mendengar ceritaku. Hanya ingin menceritakan pengalamanku kawan, tak lebih.
Perjalanan kamipun berlanjut, setelah lepas dari razia ilegal yang menguras (keringat dan uang) kami. Untunglah, semangat kami tak ikut terkuras. Bayangan suasana pedesaan yang asri, serta sejuknya air gunung semakin memompa semangat kami untuk terus melanjutkan perjalanan. memasuki daerah Punggur, kami disambut jejeran pohon langsat yang sayangnya saat itu masih belum berbuah, namun menjadi pandangan menyejukkan bagi mata kami yang cukup lelah di tampar angin dan debu, memaksa air mata sesekali bekerja membersihkan sang indera.
Catat... Aku terus berkhayal kawan, akan keindahan desa itu, agar aku tetap bersemangat.
Kali ini kami memasuki perkebunan kelapa sawit. Berbanding terbalik dengan pohon langsat yang menjulang tinggi, menutup tubuh kami dari amarah mentari. Pohon sawit itu terbilang kerdil, seakan menertawakan 6 anak manusia yang tak lepas dari sorotan penerang satu-satunya siang itu, titipan Tuhan yang akan kami syukuri (terutama saat mengeringkan pakaian ^_^).
Daerah perkebunan itu memiliki satu-satunya jalur transportasi, berupa tanah kuning yang berasal dari pegunungan.Kami bersyukur siang itu terik kawan, karena kau dapat membayangkan bagaimana kondisi jalan jika hujan menyiram tanah merah itu (silahkan kau bayangkan). Di tepi jalan, (berdekatan dengan jejeran pohon sawit), masih dapat kau lihat jejak gilasan traktor, yang memenuhi hampir sepanjang jalan. 40 menit kurang lebih waktu yang kau butuhkan melewati kebun sawit dan tanah kuningnya, tanpa perlindungan sedikitpun dengan sorotan bola raksasa di atas sana yang tetap setia mengawasi kami.
Catat... Aku cukup khawatir akan kondisi lingkungan di sekitar perkebunan itu.
Hembusan nafas lega saat kami mencapai tanah merah terakhir. Semakin terbayang keramahan penduduk desa, seakan tak sabar segera bertemu mereka, sembari merebahkan badan ini walau untuk beberapa menit. Namun, bayangan itu harus kami tahan karena perjalanan ini masih menyisakan sekitar 1 jam kedepan.
Catat... Satu jam waktu yang cukup lama untukku.
Kami terhenti di satu ruas jalan. Satu ruas jalan dengan tanah hitam di sepanjang mata memandang. Jalan itu dihiasi dengan rumput liar dan beberapa pohon. Disisi kiri dan kanan terdapat parit yang membatasi jalan tersebut. Parit ini cukup curam kawan, kau akan membutuhkan tenaga dan bantuan ekstra jika kau terperangkap didalamnya. Namun, bukan itu yang membuat kami tertegun, tapi kondisi jalan yang digenangi air dan becek membuat kami harus menelan ludah hanya dengan melihatnya. Balum lagi parit disisi kanan kiri seakan tersenyum menunggu kami menghampirinya dan melumat kami dengan lumpur dan bau, yang dari jauh sudah dapat kami cium aromanya. Dan, disinilah petualangan dan penderitaan kami dimulai.
catat... Aku ragu kami akan tiba tepat waktu.
Bersambung...
Senin, 31 Mei 2010
Journey To Sungai Bemban (part 2)
10.30 (dihari yang sama)
Tibalah waktu keberangkatan. terasa ada yang kurang siang itu. Namun, show must go on. Satria... tolong doakan kami agar perjalanan ini tanpa kendala.
Catat... Satria tak bisa ikut hari itu.
Siang lumayan terik,tak sedikitpun tanda-tanda akan turun hujan. mentari seakan ingin membuktikan betapa perkasanya ia, tak perlu berselimutkan awan untuk membakar kulit 6 anak manusia, kami.
Perjalanan aman tanpa kendala, hingga di satu persimpangan terlihat beberapa pria berseragam dengan peluit di tangan, sigap menghentikan kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Celaka... razia kawan.
Catat... Aku dan mereka takut razia, tak satupun dari kami yang memiliki SIM (surat izin mengemudi), ditambah kondisi kendaraan yang tak beratribut lengkap.
Jadilah, kami menjadi "mangsa empuk" polisi pemburu rupiah. Jalan ini tak seharusnya dijaga kawan, tak pernah dalam sejarahnya. Aku kasihan melihat para aparat itu yang seakan kehabisan uang, mencari tambahan dengan menggelar razia ilegal (dan aku tahu pasti itu ilegal). Tapi tetap seilegal apapun itu, kami harus merogoh rupiah untuk denda. Dan abdul, tak terlihat helm melekat di kepalanya, yang menambah kekhawatiran akan jumlah yang harus kami keluarkan nanti.
Catat... Ya Allah, ampunilah mereka atas apa yang mereka perbuat pada kami dan orang-orang yang senasib dengan kami.
Razia ilegal itu mungkin menjadi pengalaman pahit untuk kami (Aku, Abdul, Ilham, dan Dede), tapi tidak untuk Sandi dan Rendi. mereka hebat kawan, bak seekor elang yang awas, mereka sigap melihat gelagat tak benar para petugas di depan sana, dan mereka berhasil menghindar. SELAMAT!!!
Catat... Sandi memang rider yang hebat (kau akan tahu di kelanjutan kisahku nanti)
Bersambung...
Tibalah waktu keberangkatan. terasa ada yang kurang siang itu. Namun, show must go on. Satria... tolong doakan kami agar perjalanan ini tanpa kendala.
Catat... Satria tak bisa ikut hari itu.
Siang lumayan terik,tak sedikitpun tanda-tanda akan turun hujan. mentari seakan ingin membuktikan betapa perkasanya ia, tak perlu berselimutkan awan untuk membakar kulit 6 anak manusia, kami.
Perjalanan aman tanpa kendala, hingga di satu persimpangan terlihat beberapa pria berseragam dengan peluit di tangan, sigap menghentikan kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Celaka... razia kawan.
Catat... Aku dan mereka takut razia, tak satupun dari kami yang memiliki SIM (surat izin mengemudi), ditambah kondisi kendaraan yang tak beratribut lengkap.
Jadilah, kami menjadi "mangsa empuk" polisi pemburu rupiah. Jalan ini tak seharusnya dijaga kawan, tak pernah dalam sejarahnya. Aku kasihan melihat para aparat itu yang seakan kehabisan uang, mencari tambahan dengan menggelar razia ilegal (dan aku tahu pasti itu ilegal). Tapi tetap seilegal apapun itu, kami harus merogoh rupiah untuk denda. Dan abdul, tak terlihat helm melekat di kepalanya, yang menambah kekhawatiran akan jumlah yang harus kami keluarkan nanti.
Catat... Ya Allah, ampunilah mereka atas apa yang mereka perbuat pada kami dan orang-orang yang senasib dengan kami.
Razia ilegal itu mungkin menjadi pengalaman pahit untuk kami (Aku, Abdul, Ilham, dan Dede), tapi tidak untuk Sandi dan Rendi. mereka hebat kawan, bak seekor elang yang awas, mereka sigap melihat gelagat tak benar para petugas di depan sana, dan mereka berhasil menghindar. SELAMAT!!!
Catat... Sandi memang rider yang hebat (kau akan tahu di kelanjutan kisahku nanti)
Bersambung...
Minggu, 30 Mei 2010
Journey To Sungai Bemban
Pontianak, 22 Mei 2010
Awalnya aku mengira tak kan berangkat bersama mereka pagi itu, tapi Allah berkata lain, dan.. jadilah.
09.00
Pagi yang sempurna, dengan cuaca yang sempurna pula. Hari ini sesuai yang telah dijadwalkan, kami akan berangkat menuju satu desa yang tak terlalu jauh dari kota Pontianak (kurang lebih 3 jam menggunakan sepeda motor), desa kediaman salah satu saudara kami, Abdul Rahmansyah.
Aku cemas, hingga hari yang ditentukan tak jua kudapati tumpangan kendaraan. Tak tega membawa curut (motor kesayangan ku), bukan karena aku pelit atau lainnya, tapi karena kondisi curut yang tak lagi prima. Oleng dibagian ban depan dan belakang membuat curut tak tahan dibawa ke daerah jauh, apalagi di medan yang berat. Dan aku… pasrah untuk tinggal, tak bersama mereka.
Senyum bahagia dan semangat membara kudapati di wajah-wajah mereka saat kami semua berkumpul di tempat yang ditentukan. Aku dan Abdul, ya, hanya kami berdua di situ. Harusnya seluruh personil berkumpul, 7 jumlah kami.
“Dimana yang lain dul” Tanyaku pada Abdul
“Tu dia bang, lom datang sepertinya”
“Ya udah, kita tunggu”
Sembari menunggu, ku nikmati segelas jus sawo kesukaanku. Ingin memastikan, ku kirim beberapa pesan singkat ke beberapa personil yang telat.
“Bentar bang, lagi nungguin Sandi” Balas sms di seberang.
“Cepetan, udah telat ni” Balasku.
Tak lama berselang, Dede pun datang. “Alhamdulillah” Ucapku. Satu personel tiba.
10.00
Semua telah berkumpul, Ilham, Sandi, Rendi, Dede. Abdul, dan Aku.
Tapi tunggu, Satria tak ada di situ. Kembali satu pesan singkat kukirimkan ke nomor Satria. Sembari menunggu balasan, tibalah menjelaskan satu hal yang tak ingin ku ucapkan…
“Sebelumnya abang minta maaf, sebenarnya hari ini abang tak bisa ikut dengan kalian” Tak ada kendaraan alasanku, dan memang itulah penyebabnya.
Suasana hening, tak bersuara. Yang kudapati wajah-wajah yang tak lagi bersemangat,dan aku merasa bersalah.
“Tak asik kalau abang tak ikut” Ilham memecah kesunyian.
“Iya bang” Sahut yang lain.
“Tapi kendaraan tak cukup dek” Ku coba menjelaskan
Lama menunggu balasan, ku pencet nomor Satria, dan terdengar suara di seberang sana. Perbincangan tersebut mengarah pada satu kesimpulan bahwa Satria tak bisa ikut bersama kami, alasan yang memang mengharuskannya untuk tinggal (terkait baktinya terhadap orang tua).
Ku lirik wajah mereka yang duduk di depanku. Hei.. ada apa ini? Mereka tersenyum. Firasatku tak nyaman untuk hal ini.
“Ya udah bang, Satria kan tak bisa ikut, abang aja yang ikut, kan pas tu” Ilham memperjelas kecurigaanku.
“Tapi……”
“iya bang, tak asik kalo abang tak ikut” Sambung rendi.
Dan jadilah aku, bersama mereka siap menuju Sungai Bemban. Dan Satria, maaf bukannya mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi ini keputusan bersama, dengan niat mengoptimalkan fasilitas yang ada. (maaf dek, semua salah abang ^_^).
Bersambung
Awalnya aku mengira tak kan berangkat bersama mereka pagi itu, tapi Allah berkata lain, dan.. jadilah.
09.00
Pagi yang sempurna, dengan cuaca yang sempurna pula. Hari ini sesuai yang telah dijadwalkan, kami akan berangkat menuju satu desa yang tak terlalu jauh dari kota Pontianak (kurang lebih 3 jam menggunakan sepeda motor), desa kediaman salah satu saudara kami, Abdul Rahmansyah.
Aku cemas, hingga hari yang ditentukan tak jua kudapati tumpangan kendaraan. Tak tega membawa curut (motor kesayangan ku), bukan karena aku pelit atau lainnya, tapi karena kondisi curut yang tak lagi prima. Oleng dibagian ban depan dan belakang membuat curut tak tahan dibawa ke daerah jauh, apalagi di medan yang berat. Dan aku… pasrah untuk tinggal, tak bersama mereka.
Senyum bahagia dan semangat membara kudapati di wajah-wajah mereka saat kami semua berkumpul di tempat yang ditentukan. Aku dan Abdul, ya, hanya kami berdua di situ. Harusnya seluruh personil berkumpul, 7 jumlah kami.
“Dimana yang lain dul” Tanyaku pada Abdul
“Tu dia bang, lom datang sepertinya”
“Ya udah, kita tunggu”
Sembari menunggu, ku nikmati segelas jus sawo kesukaanku. Ingin memastikan, ku kirim beberapa pesan singkat ke beberapa personil yang telat.
“Bentar bang, lagi nungguin Sandi” Balas sms di seberang.
“Cepetan, udah telat ni” Balasku.
Tak lama berselang, Dede pun datang. “Alhamdulillah” Ucapku. Satu personel tiba.
10.00
Semua telah berkumpul, Ilham, Sandi, Rendi, Dede. Abdul, dan Aku.
Tapi tunggu, Satria tak ada di situ. Kembali satu pesan singkat kukirimkan ke nomor Satria. Sembari menunggu balasan, tibalah menjelaskan satu hal yang tak ingin ku ucapkan…
“Sebelumnya abang minta maaf, sebenarnya hari ini abang tak bisa ikut dengan kalian” Tak ada kendaraan alasanku, dan memang itulah penyebabnya.
Suasana hening, tak bersuara. Yang kudapati wajah-wajah yang tak lagi bersemangat,dan aku merasa bersalah.
“Tak asik kalau abang tak ikut” Ilham memecah kesunyian.
“Iya bang” Sahut yang lain.
“Tapi kendaraan tak cukup dek” Ku coba menjelaskan
Lama menunggu balasan, ku pencet nomor Satria, dan terdengar suara di seberang sana. Perbincangan tersebut mengarah pada satu kesimpulan bahwa Satria tak bisa ikut bersama kami, alasan yang memang mengharuskannya untuk tinggal (terkait baktinya terhadap orang tua).
Ku lirik wajah mereka yang duduk di depanku. Hei.. ada apa ini? Mereka tersenyum. Firasatku tak nyaman untuk hal ini.
“Ya udah bang, Satria kan tak bisa ikut, abang aja yang ikut, kan pas tu” Ilham memperjelas kecurigaanku.
“Tapi……”
“iya bang, tak asik kalo abang tak ikut” Sambung rendi.
Dan jadilah aku, bersama mereka siap menuju Sungai Bemban. Dan Satria, maaf bukannya mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi ini keputusan bersama, dengan niat mengoptimalkan fasilitas yang ada. (maaf dek, semua salah abang ^_^).
Bersambung
Sabtu, 29 Mei 2010
Saat Resah Bertandang
Sahabat...
Tak salah jika kita merasa bingung saat resah datang. Kita seakan tak tahu harus berbuat apa, yang ada hanya terpaku, waktu terbuang percuma tanpa hal yang bermakna.
Tak salah sahabat, karena resah memang kerap menyerang.
Namun sahabat...
Semua itu akan menjadi salah saat kau membiarkan dirimu terus dalam "kangkangan" resah. Semua kan menjadi salah saat kau pasrah dalam "pelukan" resah.
Lalu apa yang harus kita lakukan?
Sudahkah kau datang kepada Tuhan?
Sudahkah kau mengadukan semua kepada Sang Pemilik dan Penyelesai Masalah?
Jika jawabanmu belum? maka jangan heran jika resah itu masih bercokol.
Resah itu pada dasarnya datang dari syaitan kawan, maka usir ia dan minta perlindungan darinya kepada Sang Pelindung, Allah SWT.
Adukan resahmu kepada-Nya. Biarkan hatimu mencurahkan segala rasa resah itu pada-Nya. Jangan ada yang kau tutupi, ungkapkan semuanya (karena itu percuma, Ia tahu segala yang tertutup). Biarkan air matamu jatuh, jangan kau tahan, karena Ia senang melihatmu menangis saat kau mengadukan semua pada-Nya.
Jika resah itu datang dan malam masih panjang untuk ditunggu, sirami wajah dan tubuhmu dengan wudhu sahabat.
Angkat kedua tanganmu dan kumandangkan takbir "Allahuakbar" seraya menghadapkan wajahmu pada-Nya. Biarkan dirimu asik berkomunikasi dengan-Nya. Tak harus menunggu malam sahabat, kapan saja kau dapat menghadap-Nya.
Kau pun dapat menggunakan satu jurus ampuh lain untuk mengusir resah, kau mau tahu sahabat?
Biarkan matamu asik memandang keindahan firman-Nya.
Biarkan mulutmu asik melafadzkan kata-kata Maha Dahsyat dalam Kitab-Nya.
Dan sobat, semakin hanyut kau membacanya, semakin jauh resah yang tadinya kau rasakan, dan sedikit demi sedikit resah itu akan hilang, lenyap tak tersisa...
Minggu, 16 Mei 2010
Boneka Untuk Shella
Mila membuka pintu kamarnya. Satu wajah polos dan teduh ia dapati, terlelap dengan dekapan guling yang ukurannya lebih besar dari tubuh mungil itu. Dengan sisa tenaga malam itu, ia menghampiri tubuh bocah 4 tahun tersebut dan mendaratkan ciuman damai di pipi dan kening si bocah.
"Selamat tidur malaikatku" bisiknya, dan berlalu.
Hari-hari yang dilalui Mila sungguh teramat berat untuk gadis seusianya. Di saat gadis 20 tahun lainnya menikmati masa remaja mereka dengan merengguh manisnya bangku kuliah, Mila harus menaklukkan kejamnya hidup degan butiran keringat sebagai kuli angkut di pasar. Lima tahun sudah ia menjadi keluarga dari bau dan lumpur di pasar pagi, sejak keluarga aslinya (ayah dan ibu) meninggal dalam kebakaran 6 tahun lalu.
Kecelakaan itu menorehkan perih yang tak terlupakan, kehilangan orang tua yang menjadi tempat bergantung baginya, perih itupun tergambar buram di pipi kiri Mila, menjelma menjadi luka bakar akibat kebakaran itu. Namun, musibah itupun meninggalkan amanah yang menjadi alasan Mila tetap bertahan, mengisi hari-hari buram sang gadis dengan senyum dan harapan, adik kandungnya Shella.
"Shella ingin boneka kak." Rengek Shella suatu pagi sebelum Mila berangkat kerja.
"Ia, tapi kakak belum punya uang, nanti saja jika kakak dapat uang lebih ya?" Jawab Mila.
"Tapi Shella belum pernah punya boneka, Shella pengen punya satu saja." Tangis si bocah.
Rengekkan bocah kecil itu begitu menyayat, sudah sejak lama Shella menginginkan boneka. Kondisi ekonomi yang tak mendukung membuat Mila harus mencari 1001 alasan untuk si kecil Shella. Tapi kali ini, Mila tak tega, ia tak kuat melihat cahaya hidupnya muram dan bersedih.
"Baiklah, besok kakak belikan ya" bujuk Mila.
"Benar kak?"
"Iya... sekarang Shella makan ya, setelah itu mandi"
"Iya kak." Shella tersenyum memperlihatkan 2 gigi depannya yang bolong.
Hari itu Mila kerja ekstra keras. Tak hanya mengangkut barang-barang, hari itu ia pun menerima tawaran untuk bersih-bersih di pasar, dengan satu tujuan membelikan boneka untuk Shella.
Malam itu purnama. Penat dan lelah yang dirasakan Mila kali ini tak seperti biasa. Seluruh sendi-sendi tulang serasa terlepas dari engselnya, menyisakan tubuh yang lunglai karena bekerja terlalu keras. Namun, lelah itu seakan sirna saat ia melihat wajah polos itu, yang tertidur pulas, menyisakan kedamaian di hati Mila. Senyum di Bibir Mila semakin melebar saat ia memejamkan mata dan membayangkan tawa riang Shella yang memeluk boneka impiannya.
"Ya, boneka itu untuk Shella" gumam Mila sambil tersenyum melihat uang di saku bajunya.
Matahari hampir menampakkan wajahnya. Mila bergegas takut terlambat.
"Kak Mila jangan lupa ya bonekanya" teriak Shella dari balik pintu.
"Ia sayang" jawab Mila dan bergegas menuju pasar pagi di seberang jalan.
Rumah kecil yang mereka tempati berada di daerah kumuh tak jauh dari rel kereta api. Suara bising kereta menjadi irama pengantar tidur setiap malam untuk Mila dan Shella di kontrakan mungil mereka.
Siang itu Mila pulang jauh lebih awal. Ia sengaja pulang awal untuk memberikan kejutan buat Shella, sebuah boneka beruang yang lucu. Langkah cepat dan panjang Mila tempuh, dengan seulas senyum dan boneka beruang merah muda di dekap di dada.
Siang itu tak seperti biasa. Kontrakkan mungil itu dipenuhi tetangga di sekitar tempat tinggal mereka. Mila setengah berlari menuju istana mungil mereka, ia dan Shella.
"Mila, syukurla kau datang, tadi kami mencarimu di pasar tapi kau tidak...."
"Ada apa bu? mana Shella?" tanya Mila memotong perkataan si wanita.
"Shella anu... dia... " si wanita terbata-bata.
"Shella..." Mila masuk ke dlam melewati kerumunan tetangga yang memenuhi rumah mungil itu.
Mila terjatuh di lantai, boneka beruang merah muda itupun terlepas dari pelukannya, menggelinding menghampiri tubuh mungil yang terbaring pucat di lantai.
"Shella, bangun sayang. Ini kakak bawakan boneka yang Shella inginkan. Cantik bukan? Bangun sayang."
Mila mengguncang tubuh mungil itu, mencium dan memeluk, dengan tangis yang tak henti mengalir.
Sore itu sebuah stasiun televisi menayangkan berita mengenai kecelakaan maut, sebuah kereta yang menabrak gadis kecil di sebuah daerah pemukiman kumuh...
"Selamat tidur malaikatku" bisiknya, dan berlalu.
Hari-hari yang dilalui Mila sungguh teramat berat untuk gadis seusianya. Di saat gadis 20 tahun lainnya menikmati masa remaja mereka dengan merengguh manisnya bangku kuliah, Mila harus menaklukkan kejamnya hidup degan butiran keringat sebagai kuli angkut di pasar. Lima tahun sudah ia menjadi keluarga dari bau dan lumpur di pasar pagi, sejak keluarga aslinya (ayah dan ibu) meninggal dalam kebakaran 6 tahun lalu.
Kecelakaan itu menorehkan perih yang tak terlupakan, kehilangan orang tua yang menjadi tempat bergantung baginya, perih itupun tergambar buram di pipi kiri Mila, menjelma menjadi luka bakar akibat kebakaran itu. Namun, musibah itupun meninggalkan amanah yang menjadi alasan Mila tetap bertahan, mengisi hari-hari buram sang gadis dengan senyum dan harapan, adik kandungnya Shella.
"Shella ingin boneka kak." Rengek Shella suatu pagi sebelum Mila berangkat kerja.
"Ia, tapi kakak belum punya uang, nanti saja jika kakak dapat uang lebih ya?" Jawab Mila.
"Tapi Shella belum pernah punya boneka, Shella pengen punya satu saja." Tangis si bocah.
Rengekkan bocah kecil itu begitu menyayat, sudah sejak lama Shella menginginkan boneka. Kondisi ekonomi yang tak mendukung membuat Mila harus mencari 1001 alasan untuk si kecil Shella. Tapi kali ini, Mila tak tega, ia tak kuat melihat cahaya hidupnya muram dan bersedih.
"Baiklah, besok kakak belikan ya" bujuk Mila.
"Benar kak?"
"Iya... sekarang Shella makan ya, setelah itu mandi"
"Iya kak." Shella tersenyum memperlihatkan 2 gigi depannya yang bolong.
Hari itu Mila kerja ekstra keras. Tak hanya mengangkut barang-barang, hari itu ia pun menerima tawaran untuk bersih-bersih di pasar, dengan satu tujuan membelikan boneka untuk Shella.
Malam itu purnama. Penat dan lelah yang dirasakan Mila kali ini tak seperti biasa. Seluruh sendi-sendi tulang serasa terlepas dari engselnya, menyisakan tubuh yang lunglai karena bekerja terlalu keras. Namun, lelah itu seakan sirna saat ia melihat wajah polos itu, yang tertidur pulas, menyisakan kedamaian di hati Mila. Senyum di Bibir Mila semakin melebar saat ia memejamkan mata dan membayangkan tawa riang Shella yang memeluk boneka impiannya.
"Ya, boneka itu untuk Shella" gumam Mila sambil tersenyum melihat uang di saku bajunya.
Matahari hampir menampakkan wajahnya. Mila bergegas takut terlambat.
"Kak Mila jangan lupa ya bonekanya" teriak Shella dari balik pintu.
"Ia sayang" jawab Mila dan bergegas menuju pasar pagi di seberang jalan.
Rumah kecil yang mereka tempati berada di daerah kumuh tak jauh dari rel kereta api. Suara bising kereta menjadi irama pengantar tidur setiap malam untuk Mila dan Shella di kontrakan mungil mereka.
Siang itu Mila pulang jauh lebih awal. Ia sengaja pulang awal untuk memberikan kejutan buat Shella, sebuah boneka beruang yang lucu. Langkah cepat dan panjang Mila tempuh, dengan seulas senyum dan boneka beruang merah muda di dekap di dada.
Siang itu tak seperti biasa. Kontrakkan mungil itu dipenuhi tetangga di sekitar tempat tinggal mereka. Mila setengah berlari menuju istana mungil mereka, ia dan Shella.
"Mila, syukurla kau datang, tadi kami mencarimu di pasar tapi kau tidak...."
"Ada apa bu? mana Shella?" tanya Mila memotong perkataan si wanita.
"Shella anu... dia... " si wanita terbata-bata.
"Shella..." Mila masuk ke dlam melewati kerumunan tetangga yang memenuhi rumah mungil itu.
Mila terjatuh di lantai, boneka beruang merah muda itupun terlepas dari pelukannya, menggelinding menghampiri tubuh mungil yang terbaring pucat di lantai.
"Shella, bangun sayang. Ini kakak bawakan boneka yang Shella inginkan. Cantik bukan? Bangun sayang."
Mila mengguncang tubuh mungil itu, mencium dan memeluk, dengan tangis yang tak henti mengalir.
Sore itu sebuah stasiun televisi menayangkan berita mengenai kecelakaan maut, sebuah kereta yang menabrak gadis kecil di sebuah daerah pemukiman kumuh...
Langganan:
Postingan (Atom)
Pages
Welcome to my world
Satu dunia yang akan membuat mu mengenalku lebih jauh.
Siapa aku? bagaimana aku? Selamat datang.......